Minggu, 13 Oktober 2019

Pelayanan BPJS oleh Rumah Sakit Pemerintah


Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kerap menuai kritikan dari berbagai pihak terkait pelayanan dan keterlambatan pembayaran, hingga menimbulkan tumpukan utang. Dilansir dari Kontan, pada akhir tahun 2017 BPJS tercatat memiliki hutang mencapai Rp 1 triliun kepada rumah sakit badan layanan umum pemerintah. Hal itu disampaikan oleh Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek.
Namun, saat dikonfirmasi, Kepala Humas BPJS Kesehatan M Iqbal Anas Ma’ruf tidak bersedia menyebutkan besaran nominal dari beban yang dimiliki BPJS terhadap berbagai pihak saat ini. Selain itu, pasien yang mengakses layanan kesehatan melalui BPJS juga beberapa kali mengaku kecewa atas berbagai bentuk pelayanan yang didapatkan. Kekecawaan itu misalnya karena lamanya menunggu giliran mendapat kamar, perbedaan pelayanan yang didapatkan pasien BPJS, keterbatasan jenis obat yang disediakan, atau proses administrasi pasien yang memakan waktu.
Kenaikan iuran program yang diusung pemerintahan Joko Widodo ini pun mendapatkan respons dari berbagai kalangan. Masyarakat membahas mengenai semakin mahalnya iuran program kesehatan pemerintah ini. Bahkan, di Twitter muncul tagar BPJS atau BPJS yang masuk dalam daftar terpopuler di Indonesia saking banyaknya orang yang mengetwit masalah kenaikan iuran bulanan. Pantauan Kompas.com, meskipun tak seluruhnya mempermasalahkan kenaikan iuran, sebagian besar merasa keberatan dan terbebani dengan adanya kenaikan iuran yang dicanangkan oleh pemerintah ini. Terlebih, keikutsertaan program JKN berlaku untuk seluruh anggota dalam satu kartu keluarga (KK)


Citizen Jurnalistik
Respon masyarakat terhadap pelayanan BPJS di RS Ujung Berung



1.     Rasyid
Pengalaman saya menggunakan BPJS kesehatan secara umum baik karena meng-cover banyak sekali, termasuk yang paling besar untuk operasi ayah saya. Seharusnya biaya normalnya ratusan juta rupiah, tapi menjadi nol. Keluarga kami cukup mengeluarkan biaya di luar biaya operasi seperti penginapan. Kekurangan dalam penyelenggaraan BPJS Kesehatan ada, tapi masih dalam tahap wajar seperti proses antri dan menunggu yang cukup lama dibandingkan ketika melakukan pembayaran.


2.    Hadi
Saya menggunakan BPJS Kesehatan untuk bapak saya. Sakitnya diabetes tapi juga merembet ke yang lainnya, yaitu gangguan ginjal dan gangguan batu saluran empedu. Karena tingkat keparahannya, maka bapak saya dirujuk ke rumah sakit di kota lain.
Pelayanan peserta BPJS Kesehatan di rumah sakit rujukan tersebut mudah. Karena sudah darurat, langsung diterima dan dilakukan tindakan. Setelah itu saya melakukan pengurusan administrasi. Mudah, tidak berbelit-belit. Kalau tanpa di-cover BPJS, waktu itu biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 27 juta.
Kekurangannya yang saya lihat berdasarkan pengalaman saya, ternyata dokter yang terkenal tidak mau dengan pasien BPJS, beda dengan dahulu ketika masih ASKES. Namun tetap kami menggunakan BPJS. Untuk penderita penyakit kronis seperti ayah saya, tentu sangat terbantu.

Ilmu Itu Murah Maka Amalkanlah Twitter Bird Gadget